Selasa, 06 Mei 2014


Malin Kundang
Dahulu kala hiduplah suatu keluarga nelayan yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak laki-laki yang diberi nama Malin Kundang. Mereka tinggal di pesisir pantai wilayah Sumatera. Keluarga tersebut sangatlah miskin, hingga pada suatu waktu karena kondisi ekonomi keluarga sudah sangat memprihatinkan maka sang ayah memutuskan untuk pergi mencari nafkah dengan mengarungi lautan yang luas untuk ke negeri seberang. Waktu demi waktu berlalu, seminggu, sebulan hingga setahun lamanya, sang ayah Malin tidak juga kembali ke kampung halamannya. Dan akhirnya ibunya harus menggantikan posisi sang ayah untuk mencari nafkah. Malin termasuk anak yang cukup cerdas walaupun sedikit nakal.
Pernah suatu waktu ia mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu dan akhirnya tersandung batu yang menyebabkan lengan kanannya terluka karena terkena batu. Dan luka tersebut akhirnya membekas di lengan tangan kanan Malin. Singkat cerita, Malin pun beranjak dewasa dan ia pun begitu sayang dan mencintai ibunya yang kerja banting tulang mencari nafkah setiap hari sebagai penjual kue untuk memenuhi kebutuhan keluarga termasuk dirinya. Karena merasa kasihan pada ibunya, ia berpikir untuk membantu ibunya untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan ketika kembali ke kampung halamannya nanti, ia sudah menjadi orang terpandang dan kaya-raya.
Suatu hari, ada kapal besar yang merapat di dekat rumah Malin. Ia pun meminta restu ibunya untuk pergi merantau. Awalnya ibu Malin tidaklah setuju, karena mengingat sang suami yang tidak pernah kembali setelah pergi merantau. Karena Malin selalu mendesak dan bersikeras untuk memenuhi niatnya tersebut akhirnya ibunya pun rela melepas kepergian Malin walaupun dengan hati yang sedih. Malin pun berangkat dengan menumpang kapal besar milik seorang saudagar kaya raya tersebut.
Pada pertengahan perjalanan, kapal yang ditumpangi Malin tiba tiba diserang oleh serombongan bajak laut dan sebagian awak kapal dibunuh oleh mereka. Beruntunglah Malin yang sempat bersembunyi di ruang kecil yang tertutup oleh kayu sehingga terhindar dari amukan para bajak laut.Kapal pun terkatung-katung di tengah laut, perlahan-lahan akhirnya kapal yang ditumpanginya sampai pada suatu pantai. Malin pun ditolong oleh penduduk desa terdekat dari pantai dan merupakan desa yang amat subur. Malin pun tinggal di desa tersebut dan dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, akhinya ia berhasil menjadi seorang yang amat kaya raya dan ia pun mempersunting seorang gadis bangsawan yang berderajat tinggi untuk menjadi istrinya.
Berita kekayaan Malin Kundang dan pernikahannya akhirnya sampai juga ke telinga ibu Malin. Ia pun merasa senang sekali dan bersyukur karena anaknya telah menjadi seorang yang sangat sukses. Sejak saat itu, ibu Malin setiap hari pergi ke dermaga untuk menantikan anaknya yang diharapkan dapat pulang ke kampung halamannya.
Beberapa waktu setelah menikah akhirnya Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan disertai anak buah kapal dan pengawalnya. Ibu Malin pun melihat kedatangan kapal ke dermaga dan juga melihat ada 2 orang yang berpakaian menyilaukan mata karena pernak-pernik pakaian yang tekena sinar matahari sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin sekali bahwa yang sedang berdiri itu adalah anak yang ditunggu-tunggu selama ini yaitu Malin Kundang dan istrinya. Setelah kapal mencapai dermaga ibu Malin pun bergegas menuju dermaga kapal tersebut.
Malin akhirnya turun dari kapal dan ibunya pun berdesak-desakan 36 dengan orang yang ingin menyaksikan sepasang muda-mudi tersebut. Setelah cukup dekat, ibunya pun melihat ada bekas luka di lengan kanan pemuda tersebut. Maka ibunya pun semakin yakin bahwa itu adalah Malin Kundang. Ibunya pun langsung memeluk sang pemuda tersebut. Sambil memeluk Malin, ibunya pun bertanya mengapa Malin tidak pernah mengabarinya selama bertahun-tahun. Malin pun terpana melihat wanita tua yang berpakaian kotor, compang-camping memeluknya. Ia menjadi marah seingat Malin kalau ibunya adalah seorang wanita yang kuat dan tegar badannya yang dapat menggendong Malin kemana saja ia mau. Belum sempat berpikir dengan tenang, sang istri lalu menanyakan kebenaran akan apa yang ia lihat.
Sejak awal Malin mengaku kepada istrinya bahwa dirinya dan keluarga besarnya berdarah bangsawan, dan kenyataan ini membuat istrinya gusar karena merasa tertipu. Mendengar perkataan istrinya Malin marah karena ia akan malu dan gengsi jika hal ini diketahui oleh istrinya dan anak buahnya. Sambil marah, Malin pun melepas pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh sambil menghardik ibunya yang miskin. Dalam hatinya pun berkata, seandainya saja wanita itu adalah benar ibunya maka dia pun tidak akan mengakuinya.
Mendengar perkataan dan menerima perlakuan Malin, hati ibunya pedih bagaikan ditusuk-tusuk. Dan wanita tua itupun menengadah ke langit dan mengangkat kedua tangannya sambil ia berseru dengan hati yang terkoyak-koyak dan berderai air mata, bahwasannya jika pemuda yang ada di hadapannya ini adalah anaknya sendiri, ia meminta keadilan dari Tuhan dan mengutuk anak tersebut untuk menjadi batu. Beberapa saat kemudian cuaca di sekitar laut yang sebelumnya cerah, mendadak berubah menjadi gelap, hujan turun dengan deras. Badai pun datang dengan tiba-tiba dan menghantam kapal Malin Kundang. Petirpun menyambar dan seketika kapal itu hancur menjadi berkeping-keping. Orang-orang pun berlarian untuk menyelamatkan diri dan perlahan-lahan tubuh Malin Kundang berubah menjadi kaku dan keras.
Ketika badai telah mereda, tak jauh dari kepingan kapal tersebut terdapat sebongkah batu yang menyerupai tubuh manusia. Konon itu adalah tubuh Malin Kundang si anak durhaka yang terkena kutukan dari sang ibu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar